Bacaan Takbiratul Ihram Dan Doa Iftitah Arab Latin Beserta Artinya

Bacaan Takbiratul Ihram Dan Doa Iftitah Arab Latin Beserta Artinya – Bacaan takbiratul ihram termasuk ke di dalam tidak benar satu rukun salat. Oleh dikarenakan itu, seandainya tidak dijalankan atau terlewat, maka salatnya terasa tidak sah.

Bacaan Takbiratul Ihram Dan Doa Iftitah Arab Latin Beserta Artinya

Dalam buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi oleh Imam an-Nawawi, berdasarkan pendapat yang sahih, bacaan salat takbiratul ihram tidak dibaca panjang, sedangkan sedang Baru kemudian bacaan takbir selain takbiratul ihram dibaca panjang, sampai posisi rukuk selanjutnya.

Disunnahkan bagi imam untuk membaca panjang takbiratul ihram dan pada takbir lantas dibaca keras, sehingga makmum akan mengenali dan mendengarkan. sementara untuk makmum, takbiratul ihram dibaca dengan nada pelan, paling tidak akan didengar sendiri.

Mengutip buku Buku Induk Doa & Zikir oleh Imam Nawawi, lafaz takbir adalah Allahu akbar atau Allaahul Akbar. sedang direkomendasikan untuk melafazkan yang pertama, sehingga terhindar dari perselisihan. sebab beberapa mazhab menyebutkan lafaz ke-2 tidak boleh dan dapat buat salat tidak sah.

Berikut bacaan takbiratul ihram dalam bhs Arab, Latin, artinya dan doa iftitah yang dianjurkan untuk diamalkan didalam salat.

Bacaan Takbiratul Ihram

Lafal takbiratul ihram ialah:

اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .

Bacaan Iftitah

Setelah melafalkan takbiratul ihram, disunnahkan umat Muslim untuk membaca doa iftitah. berikut bacaan doa iftitah:

1. Doa Iftitah 1 (Lafaz Ba’id baini)

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ ، وَالثَّلْجِ ، وَالبَرَدِ

Allahumma Baa’id baiynii wa baiyna khothooyay kamaa baa’adta baiynal masyriqi wal maghribi, Allahumma naqqinii minal khothooya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad dannasi, Allahummaghsil khothooyaya bilmaa i wats tsalji wal barodi.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara saya dan kesalahanku sebagaimana Engkau sudah menghindarkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana busana yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku bersama dengan air, salju, dan air dingin.” (HR.Bukhari 2/182, Muslim 2/98).

2. Doa Iftitah 2 (Lafaz Allahu Akbar Kabiro)

للهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً
إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu akbaru Kabiira Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.

Artinya: “Allah Mahabesar kembali sempurna kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah, pujian yang banyak, dan MahasuciAllah di pas pagi dan petang.

Kuhadapkan wajahku (hatiku) kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi bersama dengan kondisi lurus dan menyerahkan diri dan saya bukanlah dari golongan kaum musyrikin.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku sekedar untuk Allah, Tuhan semua alam.Tidak ada sekutu bagi-Nya dan bersama dengan itu saya diperintahkan untuk tidak menye-kutukan-Nya.Dan saya berasal dari golongan orang muslimin.”

3. Doa Iftitah 3 (Lafaz yang Diriwayatkan oleh Aisyah)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ

Subhanakallahumma wabihamdika tabaarokasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaha ghoiruka

Artinya: “Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak hadir sesembahan yang berhak diibadahi bersama dengan benar tak sekedar Engkau.” (HR.Abu Daud 1/124, An Nasa-i, 1/143, At Tirmidzi 2/9-10, Ad Darimi 1/282, Ibnu Maajah 1/268. dari teman akrab Abu Sa’id Al Khudri, dihasankan oleh Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi 1/252).

Keutamaan Takbiratul Ihram

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa salat berjamaah tepat sementara memiliki keutamaan yang luar biasa. lebih-lebih jikalau dikerjakan tiap-tiap salat berjamaah dan selalu mendapatkan takbir pertama atau takbiratul ihram.

Dari kawan baik Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa salat berjamaah sepanjang empat puluh hari bersama dengan memperoleh takbir pertama (takbiratul ihram) ikhlas karena Allah, akan dicatat baginya terbebas dari dua hal yakni terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafik.” (HR. Tirmidzi no 241, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Hadis di atas mengatakan betapa besarnya pahala selalu menjaga takbiratul ihram bersama selalu membersamai imam di dalam salat berjamaah. Maksud hadis di atas bukan menandakan seseorang membersamai takbiratul ihram berbarengan imam selama empat puluh hari, sehabis itu berhenti.

Namun, andaikan umat Islam bisa melakukannya selama empat puluh hari, maka seseorang akan merasakan manis dan nikmatnya ibadah dan hilanglah beban dikala beribadah. pada kelanjutannya seorang umat Muslim dapat beristiqomah dan konsisten di dalam kondisi seperti itu selanjutnya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

Dalam masa empat puluh hari, seseorang berganti berasal dari satu situasi ke kondisi yang lainnya. Sebagaimana terletak didalam sebuah hadis di Ash-Shahihain, dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Penciptaan salah seorang di antara kalian dihimpun di perut ibunya selama empat puluh hari. lantas mulai ‘alaqah (segumpal darah) sepanjang itu pula (empat puluh hari, pent.). selanjutnya terasa mudhghah (segumpal daging) selama itu pula, kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya.” (Jaamiul Masaail, 6: 134).

Keutamaan Doa Iftitah

Doa iftitah meresmikan keutamaan luar biasa, salah satunya yaitu bakal membukakan pintu langit kala dibaca. pernyataan ini merujuk pada keliru satu hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Dari Ibnu Umar ra, dia bicara “Ketika kami salat bersama-sama Rasulullah SAW, tiba-tiba seseorang mengucapkan Allaahu akbaru kabiraa Walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan waashiilaa.

Selesai salat, Rasulullah SAW tanya ‘Siapakah yang mengucapkan kata-kata tadi?’

Seorang kawan akrab menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah. ‘Beliau lantas bersabda, ‘Sungguh saya amat takjub bersama dengan ucapan tadi dikarenakan pintu-pintu langit diakses karena kata-kata itu.

Kata Ibu Umar, ‘Maka aku tidak dulu meninggalkannya (membaca doa iftitah) semenjak aku mendengar Rasulullah SAW mengucapkan perihal itu.” (HR Bukhari).

Selain itu, di antara beberapa doa iftitah yang akan dilafalkan umat Muslim, salah satu doa Iftitah yang berbunyi: “Allaahu akbaru Kabiira Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.”

Menurut buku Tata cara Shalat Lengkap yang Dicintai Allah dan Rasulullah karangan Yoli Hemdi, lafal di atas merupakan ajakan bagi umat Muslim untuk belajar berpasrah dan berserah diri. Berpasrah didalam konteks ini bukanlah menyerah menghadapi kehidupan, namun sebagai bentuk rasa patuh atas segala peraturan Allah SWT pada kehidupan para hamba-Nya.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *